Total Tayangan Halaman

Senin, 04 Juli 2011

Pendidikan untuk Semua

Pengertian pendidikan

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedagody, yang artinya seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar seorang pelayan. Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput dinamakan paedagogos. Dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan dengan educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual (Wiji Suwarno, 2006).

Sementara dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedang menurut Phenix yang dikutip abdul Latif (2009) menekankan pengertian pendidikan yang lebih menitikberatkan pada sebuah proses mengeksplorasi bakat-bakat individu yang secara alamiah dimilikinya semenjak lahir. Potensi ini jika diberdayakan akan membekali seseorang untuk hidup lebih mengerti tentang hal-hal yang ada di sekitarnya. Sehingga pendidikan diharapkan bisa memaksimalkan potensi-potensi ini yang akan membekali manusia dalam interaksinya dengan yang di luar drinya.

Tujuan pendidikan

Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Ada yang membagi tujuan pendidikan dalam beberapa jenis, yaitu tujuan nasional, institusional, kurikuler, dan instruksional. Sutari Imam bernadib dalam Wiji Suwarno (2006) dengan merangkum pendapat Langeveld, membedakan enam tujuan pendidikan yaitu tujuan umum, tujuan khusus, tujuan tidak lengkap, tujuan sementara, tujuan intermediet, tujuan insidental. Sedang menurut Bloom, tujuan pendidikan dibedakan menjadi tiga, yaitu cognitive domain, affective domain, psychomotor domain.

Perlunya pendidikan untuk semua

Dengan dasar pengertian dan tujuan pendidikan, maka pendidikan adalah perlu, karena manusia adalah makhluk yang dapat dibina dan diarahkan untuk mencapai derajat kesusilaan, mempunyai bakat yang dapat dikembangkan, manusia mempunyai kekuatan untuk menemukan hal-hal yang baru di dalam lingkungannya.

Mengingat perlunya pendidikan bagi manusia, maka dalam the world summit on education di Jontien pada tahun 1990 yang diprakarsai Unesco menghasilkan deklarasi dunia tentang education for all (pendidikan untuk semua). Tujuan akhirnya adalah memenuhi kebutuhan belajar dasar anak-anak,pemuda, dan orang dewasa. Bahkan world education forum yang diadakan di Dakar, Senegal, pada April 2000 mengesahkan education for all sebagai kerangka program aksi untuk diterjemahkan oleh negara masing-masing yang memuat enam komitmen: meningkatkan dan memperluas mutu perawatan dan pendidikan anak usia dini, menjamin hingga tahun 2015 semua anak mempunyai akses menyelesaikan pendidikan dasar yang berkualitas, menjamin kebutuhan belajar generasi muda dan orang dewasa terpenuhi, menurunkan tingkat buta huruf, menghapus disparitas gender pada pendidikan dasar dan menengah, memperbaiki semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulannya sehingga hasil-hasil belajar yang diakui terukur dapat diraih oleh semua di bidang keaksaraan, angka, dan ketrampilan hidup.

Dengan keenam tesebut di atas jelas bahwa semua orang harus mendapatkan akses pendidikan, karena pendidikan adalah hak.

………………….., Jurnal Perempuan edisi 66, 2010

Latif, Abdul, 2009, Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan, Refika Aditama, Bandung

Suwarno, Wiji, 2006, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Ar-ruzz,Yogyakarta

Minggu, 19 Juni 2011

Cara Belajar yang Baik

PENDAHULUAN

Belajar adalah bagian penting dalam proses kehidupan kita. Setiap perkembangan yang terjadi dalam hidup, tidak lepas dari kegiatan pembelajaran. Bisa kita bayangkan bagaimana kita kecil kemudian tumbuh menjadi besar, dari ketidak bisaan menjadi memiliki kemampuan, semua itu dari proses belajar, baik belajar sendiri maupun atas bimbingan orang lain.

Kemampuan yang kita miliki akan terus bertambah jika terus belajar. Bahkan semakin bertambah usia - seiring dengan bertambahnya kemampuan/pengetahuan - proses belajar kian meningkat, karena semakin kompleks permasalahan kehidupan. Hal tersebut juga berpengaruh pada cara belajar.

Cara atau gaya belajar dari setiap orang tidak selalu sama. Sama-sama kemampuan atau capaian pengetahun seseorang, tidak selalu sama dalam proses/cara belajar untuk mencapai hal itu. Permasalahan yang terjadi, jika seseorang memaksakan diri meniru cara/gaya belajar orang lain padahal cara/gaya tersebut tidak sesuai dengannya, hal ini dapat berakibat belajar kurang efektif.

Lepas dari cara/gaya belajar tersebut, pada tulisan ini akan dibahas secara umum bagaimana cara belajar yang baik.

PEMBAHASAN

a. Belajar

Belajar merupakan kegiatan yang sudah tidak asing dan bahkan bisa dikatakan “penting” bagi kita. Dengan belajar, diharapkan kita dapat memperoleh sesuatu yang bermanfaat dalam kehidupan.

Seringkali ada anggapan belajar sama dengan menghapal atau membaca. Padahal belajar itu lebih luas dari hanya sekedar menghapal atau membaca. Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru berdasarkan pengalaman (Sukmana, 2003). Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan bahwa belajar adalah :

  1. Berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.
  2. Berlatih.
  3. Berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman

Bahkan lebih jauh Sidiarto Kusumoputro mengatakan : dalam belajar ada proses belajar yang terjadi secara sengaja dan diupayakan atau disebut intensional learning. Ada pula belajar yang terjadi tanpa disadari dan tidak perlu upaya (incidental learning). Kedua jenis pembelajaran itu dapat diingat dan disimpan dalam pusat memori tetapi dapat dilupakan di kemudian hari. Apabila kemampuan pembelajaran seseorang itu baik dan kemampuan memorinya prima, ia dibilang cerdas, cerdik, dan pintar. Walaupun kemampuan memorinya baik , tapi kalau proses belajarnya kurang , dapat disimpulkan orang itu tidak ada apa-apanya, karena tidak ada informasi yang dapat masuk ke otak untuk diingat. Sebaliknya kalau proses belajarnya baik tetapi memorinya jelek, maka sesorang juga tidak berisi otaknya, karena semua yang dipelajari dilupakan.

Proses belajar merupakan proses terus menerus tanpa henti. Sengaja atau tidak sengaja , mau atau tidak mau, senang atau tidak senang, semua informasi akan diterima otak. Dengan diperolehnya informasi melalui belajar ini, diharapkan seseorang :

  1. Pengetahuannya makin luas
  2. Sikap bertambah baik.
  3. Ketrampilan makin meningkat
  4. Mampu memecahkan masalah dalam kehidupan, sehingga kehidupan makin mudah

Mengingat pentingnya belajar, maka sangat perlu ditanamkan semangat rajin belajar sejak dini. Bahkan Andrias Harefa mengingatkan kita untuk menjadi manusia pembelajar. Belajar sebaiknya tanpa mengenal waktu dan tempat. Selain di sekolah dan di rumah, bila memungkinkan ada tempat dan waktu untuk belajar dan dipelajari, dapat dilakukan proses belajar.

b. Cara belajar yang baik.

Dalam hal belajar, orang yang satu dengan orang lain tidak selalu sama. Ada yang hanya melalui membaca, melihat , mendengar , ataupun langsung melakukan (learning by doing). Dari sekian cara tersebut, Dasim Budimansyah mengingatkan, bahwa kita belajar :

  1. 10 % dari apa yang kita baca
  2. 20 % dari apa yang kita dengar
  3. 30 % dari apa yang kita lihat
  4. 50 % dari apa yang kita lihat dan dengar
  5. 70 % dari apa yang kita katakan
  6. 80 % dari apa yang kita katakan dan lakukan.

Mengingat hal tersebut, maka kita pun perlu tahu tentang diri kita sendiri, bagaimana dan dalam bentuk yang mana kita merasa belajar dengan baik.

Belajar dengan baik dapat dilakukan dengan beberapa hal sebagai berikut:

1. Waktu

Kita bisa menentukan waktu sendiri, dengan pertimbangan pada waktu itu kita bisa betul-betul konsentrasi untuk belajar. Misalnya, setiap hari : 1 jam setelah pulang sekolah, mengulangi secara sekilas pelajaran yang sudah kita peroleh di sekolah. Kemudian malamnya kita menentukan jam 19.00 sampai jam 21.00 untuk mempelajari lagi pelajaran yang sudah diterima, serta mempersiapkan pelajaran besoknya. Kita harus konsekuen dengan waktu belajar yang sudah kita tetapkan.

2. Motivasi

Perlu dorongan dari kita sendiri (motivasi intrinsik) bahwa belajar itu sangat perlu. Bila ingin pandai harus belajar. Bila tidak ingin dikatakan tidak mampu, harus belajar. Belajar …. Yes, tidak belajar … no way. Belajar dengan senang tanpa paksaan.

3. Sarana belajar

Kita harus persiapkan buku-buku untuk bahan belajar. Bisa buku paket atau catatan , atau buku lain yang sesuai, bahkan bila memungkinkan dari koran/majalah/ buku perpustakaan. Usahakan kita mempunyai catatan yang rapi dan khusus, sehingga akan mempermudah kita belajar.

4. Tempat

Di rumah diusahakan memiliki tempat belajar tersendiri yang nyaman dan terhindar dari gangguan. Dengan suasana belajar yang tenang paling tidak akan membantu kita untuk cepat mendapatkan/menyerap/memahami apa yang kita pelajari.

5. Teknis / strategi

Bila pelajaran sifatnya hafalan, maka perlu membaca berulang-ulang sampai hafal dan memahami. Tapi bila harus dengan mengerjakan, ya perlu dengan mengerjakan. Namun jika kita menjadi seseorang yang pelupa, Sidiarto Kusumoputro mengingatkan : LUPA

L : latihan – berlatih tekun menggunakan semua kiat mengingat

U : ulangan – mengulang-ulang apa yang hendak diingat

P : perhatian – taruh dan pusatkan perhatian

A : asosiasi – membuat asosiasi apa yang ingin diingat dengan apa yang sudah

pernah diingat.

Atau dengan MUKA

M : minat untuk mempelajari sesuatu

U : upaya untuk dapat menangkap apa yang dipelajari

K : konsentrasi

A : atensi / perhatian

Cara belajar yang baik tersebut akan benar-benar menjadi baik tergantung kepada kita sendiri. Bila kita ingin menjadi baik, mari kita mulai belajar dengan baik.

PENUTUP

Belajar adalah bagian penting dalam hidup kita. Apa yang diperoleh dalam bentuk kemampuan, pengetahuan, dan lainnya, tidak terlepas dari belajar. Tidak ada suatu yang instan dalam belajar, semua melalui proses.

Setiap orang memiliki cara/gaya belajar, semua kembali kepada kita sejauh mana memandang pentingnya proses belajar. Rasa senang dan kemauan yang tinggi dalam belajar, bisa mendasari dalam proses-proses awal belajar. Biasanya, dengan rasa tersebut kita lebih mudah dan termotivasi untuk lebih lanjut belajar.

Harapan kami – meminjam istilah Andrias Harefa – jadilah manusia pembelajar untuk meraih masa depan lebih baik. Harapan masih terbentang luas di depan, hanya dengan belajar, semoga semua impian bisa tercapai.

*) disampaikan dalam acara MOS SMPN 2 Plupuh

Referensi:

1. Budimansyah, Dasim, 2003, Model Pembelajaran Portofolio, PT Genesindo, Bandung

2. Kusumoputro, Sidiarto. Intisari No. 481 Agustus 2003

3. Sukmana, Gerbang Edisi 1 TH. III Juli 2003

4. Tagela, Umbu. 2000. Belajar di Era Informasi UKSW

5. .…………,. Intisari No.478. Mei 2003